Click here for Myspace Layouts

This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 11 Maret 2011

Kompleks Asta Tinggi Sumenep

     

Kecamatan : Kota Sumenep
Desa : Kebonagung

  1. Nama Jenis Potensi Wisata : Asta Tinggi
  2. Luas Area : 112.2m x 109.25m
  3. Sarana dan prasarana :
    • Penginapan
    • Tempat Wudhu
    • Musolla
  4. Deskripsi Potensi Wisata :
    Obyek wisata ini terletak di desa Kebunagung sekitar 2,4 Km arah barat laut kota Sumenep dan terletak di kawasan dataran tinggi. Asta Tinggi merupakan situs makam Raja-raja Sumenep dan keturunannya yang dibangun pada tahun 1763. Asta atau makam raja-raja inidikelilingi pagar tembok yang terdiri dari batu kapur yang tersusun rapi tanpa perekat baik campuran semen dan pasir maupun pasir dan kapur. Di dalam Asta Tinggi terdapat cungkup dan kubah tempat kuburan raja-raja yang dihiasi oleh ukir-ukiran kayu hasil kerajinan seniman lokal sehingga memiliki cirri khas dan nilai ukir tradisional Sumenep pada masa lalu.

CARA MENGUATKAN IMAN UNTUK HATI YANG KERAS

Oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalîh Al-‘Utsaimîn

Tanya :
“Bagaimana seseorang mampu menjadikan imannya kuat padahal ia tidak
terpengaruh oleh ayat-ayat Al-Qur‘an yang dibacanya kecuali sedikit?
Jawab :
Ringkas kata, di sini nampak bahwa orang yang mengatakan perkataan ini
beriman kepada hari akhir dan membenarkannya, padahal dalam hatinya ada
sedikit sifat keras kepala. Pada zaman kita sekarang orang yang mempunyai
sifat keras kepala seperti ini sangat banyak. Yang menjadi penyebabnya
adalah sikap menjauhkan diri dari memperhambakan dan merendahkan diri
secara sempurna kepada Allah Subhanahu Wa Ta’aala.

Sekiranya manusia mau memperhatikan Al-Qur‘an dan merenungkannya, niscaya
hatinya akan lembut dan khusyû’ karena Allah Ta’aala berfirman,
“Sekiranya Kami menurunkan Al-Qur‘an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu
akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah.���
(Q.S. Al-Hasyr: 21)

Diantara sebab-sebab manusia menjadi bersifat keras kepala adalah karena
glamournya kehidupan dunia masa kini dan terfitnah oleh keglamouran ini
serta banyaknya kesulitan-kesulitan hidup di dunia. Oleh karena itu, Anda
menemukan orang-orang kecil yang tidak memiliki akses kepadanya, mereka
justru menjadi orang yang khusyû’ dan lebih banyak menangis daripada
orang-orang yang terpandang. Hal ini dapat kita saksikan dan kalianpun
dapat menyaksikan orang seperti ini sekarang di lantai-lantai Masjidil
Haram.

Rabu, 02 Maret 2011

TEORI BARU: Alam Semesta Sudah Ada Sebelum Big Bang

KOMPAS.com — Kebanyakan ilmuwan percaya bahwa alam semesta tercipta lewat proses Big Bang yang terjadi pada 13,7 miliar tahun yang lalu. Bintang dan galaksi tercipta lebih kurang 300 tahun setelah Big Bang. Sementara itu, Matahari tercipta 3,7 miliar tahun yang lalu.

Namun, Profesor Roger Penrose dari Oxford University dan Professor Vahe Gurzadyan dari Yerevan State University di Armenia memiliki pendapat lain. Mereka berpendapat bahwa alam semesta sudah ada sebelum peristiwa Big Bang.

Mereka mengatakan, alam semesta sebenarnya tercipta lewat proses yang disebut siklus aeon, yang berarti masa atau kehidupan. Dalam siklus tersebut, terjadi peristiwa-peristiwa alam yang akan berujung pada berakhirnya sebuah aeon dan dimulainya aeon baru.


Sabtu, 15 Januari 2011

Keraton Sumenep Madura

Berdiri megah melintasi perubahan jaman. Guratan sejarah sebuah kejayaan yang tersisa di ujung Timur Pulau Garam.

Bak potret raksasa dalam sebuah bingkai histori. Bangunan megah berdiri dengan nuansa yang khas menyiratkan peninggalan masa silam. Berdiri di kawasan seluas 12 hektar, di tengahnya terdapat Pendopo Agung dengan ornamen khas berlatar bangunan tua yang tak kalah gagah memancarkan kharisma. Sebatang pohon Beringin besar berdiri di samping kirinya, menambah kokoh dan sakral nuansa yang terpancar dari warisan para raja yang dulu pernah berkuasa.
Walau kini Keraton Sumenep tidak lagi dihuni seorang raja beserta keluarga dan para abdinya. Namun bangunan yang berumur lebih dari 200 tahun itu tetap terjaga. Sumenep setelah berubah secara birokrasi dan mulai dipimpin oleh seorang bupati setelah masa raja Panembahan Notokusumo II (1854-1879) menganggap warisan sisa masa keemasan itu sebagai sebuah kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya.
Bangunan-bangunan di kawasan keraton sudah tidak ditempati lagi. Kecuali pada bagian belakang, menghadap ke Utara, yang kemudian dibangun rumah dinas bupati, berlawanan dengan keraton. Sementara pendopo kini kerap difungsikan untuk acara rapat-rapat para aparat pemerintahan, hingga pagelaran seni dan budaya setempat.
Bangunan fisik Keraton Sumenep terbilang masih asli. Hanya bagian lantai yang telah dirubah karena rusak. Semula berlantai marmer kini keramik. Terhadap bangunan keraton sendiri yang usianya lebih dari dua abad pernah dilakukan perbaikan namun hanya pada bagian gentingnya. Selain itu pengecatan tetap dilakukan pada bagian dinding agar tetap kelihatan cerah.
Bangunan utama keraton terdiri dari dua lantai. “Lantai atas merupakan tempat para putri raja yang dipingit selama 40 hari sebelum datangnya hari pernikahan,” papar Moh. Romli, penanggung jawab Museum Keraton Sumenep. Menurut pria 40 tahun ini, bangunan kediaman raja yang terletak di lantai bawah terdapat empat kamar yang masing-masing diperuntukkan untuk kamar pribadi raja, kamar permaisuri, kamar orang tua pria dan orang tua perempuan raja.

Masjid Agung Sumenep

Menghadap ke Taman Kota, yang berada di sebelah Timurnya. Dengan gerbang besar, pintu kayu kuno, yang berdiri kokoh menghadap matahari terbit. Masjid Agung Sumenep, yang dulu dikenal dengan nama Masjid Jami’, terletak ditengah-tengah Kota Sumenep.
Masjid ini dibangun setelah pembangunan Kraton Sumenep, sebagai inisiatif dari Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar. Setelah sebelumnya dibangun masjid, yang dikenal dengan nama Masjid Laju, oleh Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep, 1626-1644 M). Dalam perkembangannya, masjid laju tidak mampu lagi menampung jemaah yang kian banyak.
Setelah keraton selesai pembangunannya, Pangeran Natakusuma I memerintahkan arsitek yang juga membangun keraton, Lauw Piango, untuk membangun Masjid Jami’. Berdasar catatan di buku Sejarah Sumenep (2003) diketahui, Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M).
Masjid Jami’ dimulai pembangunannya tahun 1198 H (1779 M) dan selesai pada tahun 1206 H (1787 M). Terhadap masjid ini Pangeran Natakusuma berwasiat yang ditulis pada tahun 1806 M, bunyinya sebagai berikut;

Followers

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites